Syarat Bertahan UKM: 99% Wajib Lapor ESG, Survei DBS-Bloomberg

Survei “Catalysts of Sustainability” oleh DBS Bank Ltd dan Bloomberg—yang menelaah 800-an UKM di enam pasar Asia—menyimpulkan bahwa 83% pelaku usaha kini menempatkan aspek ESG sebagai bagian dari Syarat Bertahan UKM; temuan ini menandakan bumi hijau, tata kelola transparan, dan dampak sosial positif bukan lagi pilihan, melainkan keharusan agar bisnis tetap relevan di tengah tekanan investor, regulator, serta konsumen yang semakin sadar lingkungan.

Syarat Bertahan UKM kini tak hanya soal harga: faktor lingkungan mendorong perubahan industri, namun aspek sosial dan tata kelola perusahaan justru lebih dominan mengarahkan keputusan strategis; ditambah dorongan vendor, pemasok, hingga pelanggan global, keberpihakan pada prinsip ESG menjadi keharusan agar tetap relevan di rantai nilai internasional.

Bacaan Lainnya

Menurut Chief Sustainability Officer DBS Helge Muenkel, perusahaan yang menunda transisi ke masyarakat berkarbon rendah berisiko memiliki aset tak terpakai dan produk kehilangan pasar—konsekuensi yang sama sekali tak sesuai dengan Syarat Bertahan UKM di tengah disrupti iklim saat ini.

Dalam konteks perusahaan kecil dan menengah (UKM) di Indonesia, ESG telah menjadi prioritas utama dengan persentase yang lebih tinggi dibandingkan dengan rata-rata skor di Asia. Namun, banyak UKM yang menghadapi tantangan dalam mencapai keseimbangan antara prinsip keberlanjutan (ESG) dan pertumbuhan bisnis serta transisi operasional mereka, sehingga ESG menjadi salah satu syarat bertahan bagi UKM di era saat ini.

Meskipun menghadapi sejumlah tantangan, pengelolaan bisnis profesional terus menunjukkan respons positif terhadap implementasi ESG (Environmental, Social, dan Governance) untuk memenuhi kebutuhan “Syarat Bertahan UKM” yang semakin meningkat. Dua aspek utama yang menjadi perhatian adalah pendanaan dan arah strategis dalam mengembangkan praktik berkelanjutan di sektor bisnis.

Menjalani proses dekarbonisasi merupakan syarat bertahan bagi UKM untuk berhasil dan berkelanjutan di masa depan. DBS siap mendukung UKM dengan pendanaan serta menjadi penasihat sehingga mereka dapat terhubung ke ekosistem yang tepat di Asia.

Dukungan Bank DBS terhadap transisi keberlanjutan tidak terlepas dari temuan bahwa 87% UKM Indonesia menyebut pendanaan ESG sebagai faktor utama yang mendorong mereka mengadopsi praktik-praktik ESG, sebuah kenyataan yang juga tercermin dalam posisi Bank DBS sebagai salah satu bank regional terdepan dalam menawarkan produk dan layanan ESG. Oleh karena itu, pendanaan ramah lingkungan menjadi syarat penting bagi UKM untuk bertahan di pasar global yang semakin memprioritaskan keberlanjutan.

Hasil survei menunjukkan bahwa UKM di Indonesia memerlukan dukungan dan panduan lebih lanjut dari lembaga keuangan untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan mereka menghadapi Syarat Bertahan UKM, termasuk pengalaman dalam menerapkan prinsip ESG. Dalam upaya ini, 79% UKM memerlukan akses pada best practices yang efektif dari rekan kerja dan perusahaan lain untuk meningkatkan kemampuan mereka mengadopsi prinsip-prinsip tersebut.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *