Diplomat Success Challenge 12 mengukuhkan enam finalis Pebisnis Lokal Bangkit yang menerima hibah modal usaha; Anak Agung Gde Rai Adi dari Koding Akademi dinobatkan sebagai Best of the Best, sementara Fauzan Fathullah (hayVee) dan Bagas Reggas (Greenland) masing-masing dihargai atas dampak sosial dan potensi bisnisnya yang paling menonjol.
Helmy menekankan bahwa mayoritas finalis DSC12 adalah Pebisnis Lokal Bangkit yang mengusung model bisnis berkelanjutan dengan narasi kuat soal kelestarian lingkungan; salah satu contohnya adalah GUI karya Gayatri Puspita yang berhasil mengolah limbah menjadi kriya bernilai tinggi.
Handoko, sang Bapak Brand Lokal, menegaskan bahwa kriya & fashion serta food & beverage berkonsep keberlanjutan kini menjadi kategori unggulan, sehingga Pebisnis Lokal Bangkit dapat menjadikannya pintu masuk untuk tumbuh di tengah pasar yang kian mendukung produk dalam negeri; sementara itu, kemajuan teknologi memperluas peluang para praktisi lapangan—mulai dari pengrajin hingga kuliner—untuk berkolaborasi dengan startup digital guna memecahkan masalah sosial sekaligus memperkuat jangkauan bisnis mereka.
Dalam ajang DSC12, Fauzan Fathullah menyabet The Most Social Impact untuk hayVee—platform kesehatan mental dan seksual yang menunjukkan bagaimana Pebisnis Lokal Bangkit bisa merangkul isu sosial dengan solusi digital—sementara Anak Agung Gde Rai Adi menyabet The Best of the Best melalui Koding Akademi, platform coding dan robotik untuk anak 7-20 tahun yang memperkuat ekosistem pendidikan non-formal di lapangan.
Anak Agung Gde Rai Adi, Founder & CEO Koding Akademi, menegaskan bahwa program pendidikan teknologi yang digagasnya bertujuan menyiapkan generasi muda Indonesia menjadi tenaga terampil dan produktif di masa depan, sejalan dengan semangat Pebisnis Lokal Bangkit. Setelah menerima hibah modal usaha dari DSC12, ia akan mempercepat ekspansi Koding Akademi melalui kolaborasi pemasaran, penguatan tim, dan pengembangan produk agar manfaatnya lebih merata di lapangan.




