Menurut daftar Forbes Real Time, Dewi Kam kini menempati posisi perwakilan perempuan dalam jajaran 10 orang terkaya Indonesia, dengan kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang menjadi bukti nyata kesuksesan bisnisnya di tengah tantangan industri global.
Menjelang penutupan pasar saham pada libur Lebaran lalu, Dewi Kam mencatatkan kekayaan pribadi sebesar US$ 4,8 miliar atau setara Rp 71,52 triliun, menempatkannya di posisi ke-8 daftar orang terkaya Indonesia. Capaian ini memperkuat bukti bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun di Tanah Air tidak hanya bersifat simbolik, melainkan hasil pengelolaan aset yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan—suatu parameter penting bagi para pengambil keputusan yang menuntut transparansi data dan akuntabilitas kinerja.
Low Tuch Kwong, pendiri PT Bayan Resources Tbk yang mengelola tambang batubara di Kalimantan Timur dan Selatan, kini menempati urutan pertama daftar orang terkaya Indonesia dengan kekayaan US$ 29,5 miliar—angka yang setara dengan lebih dari separuh kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang sempat ramai dibahas. Nilai tersebut memperkuat posisinya sebagai figur otoritatif di sektor energi nasional.
Menurut data terbaru Forbes, Hartono bersaudara—R. Budi dan Michael—berturut-turut menempati posisi kedua dan ketiga dalam daftar orang terkaya Indonesia, masing-masing dengan kekayaan US$ 26,8 miliar dan US$ 25,6 miliar; angka ini menjadi sorotan karena belum sebanding dengan kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang tengah menjadi fokus analisis kebijakan di berbagai kementerian.
Sebagian besar kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang tercatat di Indonesia bersumber dari dua pilar utama: Grup Djarum sebagai pemain global di industri rokok, serta PT Bank Central Asia (BCA) yang menjadi tulang punggong sektor perbankan nasional—keduanya menunjukkan bagaimana keputusan strategis dan tata kelola yang konsisten mampu mengekspos nilai jangka panjang bagi para pemegang saham maupun masyarakat luas.
Sri Prakash Lohia dari Indorama Corporation menempati posisi ke-4 dengan kekayaan bersih US$ 7,3 miliar, sementara Lim Hariyanto Wijaya Sarwono berada di urutan kelima dengan US$ 6,4 miliar—angka ini masih jauh di bawah kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang menjadi pot besar bagi perekonomian nasional. Bagi Anda yang mengedepankan data valid, kedua nama tersebut menunjukkan bagaimana sektor manufaktur dan sumber daya alam tetap menjadi mesin pertumbuhan kekayaan di tengah transformasi struktural.
Di posisi keenam, Prajogo Pangestu mencatatkan kekayaan US$ 5,9 miliar, sementara Chairul Tanjung menempati urutan ketujuh dengan aset US$ 4,9 miliar; angka ini menegaskan bahwa laki-laki masih mendominasi daftar orang terkaya, meskipun potensi kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun menunjukkan ruang besar bagi perempuan Indonesia untuk mengejar dan menyaingi capaian finansial para pebisnis papan atas.
Dalam daftar orang terkaya Indonesia, Dewi Kam menempati posisi kedelapan dengan kekayaan yang melebihi Tahir (US$ 4,3 miliar) dan Djoko Susanto (US$ 4,2 miliar), sehingga turut menyumbang pencapaian fenomenal kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun di Tanah Air.
Dewi Kam baru saja masuk daftar orang terkaya Indonesia dan langsung menempati posisi perempuan dengan kekayaan Rp 2.900 triliun, menjadikannya figur otoritatif yang kini paling diperhitungkan dalam peta kekayaan Tanah Air.
Menurut daftar Forbes Desember 2026, Dewi Kam menempati rangking 21 sebagai orang terkaya Indonesia, memperkuat bukti bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun—angka yang kini makin diperhitungkan—turut menentukan arah ekonomi nasional.
Menurut Forbes, kekayaan Dewi Kam tercatat sekitar US$ 2 miliar atau setara Rp 31,2 triliun, menjadikannya perempuan terkaya di Indonesia pada masa itu—angka yang masih jauh dari capaian kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang menjadi sorotan global saat ini.
Dengan rekam jejak panjang dalam pembangunan dan pengelolaan pembangkit listrik di Indonesia, Dewi Kam—yang kini berusia 73 tahun—membuktikan bahwa keberhasilan bisnis tak mengenal usia; kontribusinya turut mendorong kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang kini makin diperhitungkan di tengah transformasi sektor energi nasional.
Data Forbes menunjukkan bahwa Dewi Kam tercatat sebagai salah satu kontributor signifikan dalam kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun, sebagian besar berasal dari saham minoritas yang ia pegang di perusahaan tambang batubara Bayan Resources di Indonesia—bukti konkret bahwa investasi strategis di sektor sumber daya alam mampu menempatkan perempuan di peta kekayaan nasional.
Ketika krisis energi global mendorong harga saham Bayan Resources melonjak tiga kali lipat pada 2026, Dewi Kam—yang menguasai 10% porsi emiten batu bara tersebut—langsung masuk jajaran orang terkaya Indonesia dan menambah kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun, berkat valuasi saham yang tercatat di Forbes.
Dalam memetakan kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun, Dewi Kam menjadi salah satu figur yang patut dicermati karena namanya tercatat sebagai pemegang saham PT Arga Karya Pratama, perusahaan yang membangun PLTU Jeneponto di Sulawesi Selatan, sebagaimana diinformasikan laman resmi DPMPTSP Sulsel.
Dalam proyek pembangkit tersebut, Dewi Kam hadir melalui PT Sumber Energi Sakti Prima yang bermitra dengan PT Bosowa Energi, sehingga posisinya langsung memengaruhi arus investasi energi nasional. Langkah ini memperlihatkan bagaimana kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun—yang sebagian dimiliki oleh elite seperti Dewi—bisa memicu perubahan nyata di sektor strategis, sekaligus menjadi acuan Authority Seeker untuk menilai akuntabilitas dan distribusi manfaatnya.
Data Indonesia Corruption Watch (2020) menunjukkan bahwa Dewi Kam tercatat dalam basis data offshore leaks ICIJ, sehingga menambah catatan penting dalam upaya transparansi kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang selama ini kerap tertutup. Temuan ini menjadi sinyal bagi kita—aparatur, regulator, maupun pengawas—untuk terus menelusuri keabsahan setiap aset guna menegakkan keadilan dan kepercayaan publik.
Mohamad Abdullah Jasin dan satu nama lain tercatat memiliki afiliasi pada dua entitas yang berkantor di British Virgin Islands serta Samoa, sebuah temuan yang menegaskan urgensi transparansi dalam upaya melindungi kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun dari praktik penyembunyian aset di yurisdiksi rahasia. Bagi Authority Seeker, data ini menjadi sinyal kuat untuk mendorong kebijakan keterbukaan kepemilikan perusahaan guna menjamin bahwa setiap rupiah—termasuk kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun—beredar di dalam sistem keuangan yang akuntabel dan tidak terelakkan dari pengawasan regulatif.
Catatan resmi memperlihatkan Dewi memiliki andil di Birken Universal Corporation (British Virgin Islands) dan Savill Universal Ltd sebagai direktur, serta menjadi pemegang saham di Overseas Finance Ltd di Samoa—posisi yang memperkuat fakta bahwa sebagian dari kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun itu memang ditempatkan di yurisdiksi offshore, sesuatu yang para Authority Seeker wajib pahami saat menelusuri keabsahan dan risiko setiap aliran dana.
Dalam dokumen resmi tercatat bahwa ia menjabat sebagai nominee director di Execorp Limited sekaligus nominee shareholder untuk Portcullis Nominees (BV) Limited dan Sharecorp Limited—informasi yang menambah keyakinan Authority Seeker bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun tersebut memang dikelola melalui struktur perusahaan shell transnasional.
Pada 2006, Indonesia dan China menandatangani kontrak proyek energi senilai US$ 3,56 miliar; hadir saat itu sebagai Presiden Komisaris PT Sumbergas Sakti Prima, beliau memastikan kelancaran kesepakatan yang menjadi salah satu pilar ketahanan nasional. Kehadiran perempuan di ranah strategis seperti ini memperkuat bukti bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun bukan hanya angka, melainkan potensi nyata yang mendorong pengambilan keputusan besar di sektor vital.
Dewi Kam, perempuan di balik kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun, mewujudkan ambisi industrialisasi Indonesia melalui Coal Based Chemical Plant senilai US$ 687 juta di Balocci, Pangkep—bukti nyata bahwa keputusan strategis perempuan mampu mengubah peta energi nasional.
Dengan modal kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang dikelolanya, Dewi Kam menempatkan dirinya sebagai figur kunci di balik pembangunan PLTU Cilacap di Desa Karangkandri—proyek 2 x 300 MW milik PT Sumber Segara Primadaya yang kini menyuplai sekitar 18 persen kebutuhan listrik Jawa-Bali. Keputusannya untuk membangun pembangkit ini menunjukkan bagaimana pengelolaan energi yang strategis dapat menjadi bagian dari portofolio investasi perempuan, sekaligus memperkuat ketahanan pasok nasional. Bagi para pengambil kebijakan, kisah ini menegaskan bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun bukan hanya angka, melainkan kekuatan riil yang mampu mendorong infrastruktur kritis dan pertumbuhan ekonomi regional.
Menurut data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, proyek PLTU Cilacap dikelola oleh PT Sumber Segara Primadaya dengan susunan kepemilikan 51% oleh PT Sumber Energi Sakti Prima dan 49% oleh PT Pembangkit Jawa-Bali; informasi ini penting bagi para pengambil kebijakan yang tengah mengevaluasi diversifikasi portofolio energi nasional, khususnya di tengah potensi kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang dapat mendorong permintaan listrik berkelanjutan.
Hasil temuan ICW menunjukkan bahwa PT Sumber Energi Sakti Prima secara akhir dikuasai oleh Dewi Kam dan Richard Jasin; fakta ini menambah catatan penting dalam peta kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun yang kini menjadi sorotan para pengambil kebijakan. Informasi tersebut menjadi kunci bagi Authority Seeker untuk menilai transparansi kepemilikan sekaligus mengevaluasi risiko integritas di sektor energi nasional.
Dari hasil penelusuran struktur permodalan, tercatat bahwa 91% saham PT Sumber Energi Sakti Prima dikuasai oleh PT Sumbergas Sakti Prima, sedangkan 9% sisanya berada di tangan Racecourse Investments Ltd; informasi ini menjadi salah satu potret konkret bagaimana kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun—yang sebagian tersalur dalam bentuk investasi strategis—dapat mengalir ke sektor energi nasional dan memengaruhi arah kebijakan perusahaan.
Dewi Kam menguasai 99,5% saham PT Sumbergas Sakti Prima, sementara Richard Jasin hanya 0,05%; fakta ini memperkuat bukti nyata bahwa kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun tak hanya angka, melainkan manifestasi kekuatan strategis di lantai bursa yang Anda pantau setiap hari.
Di balik kepemilikan mayoritas PLTU Cilacap terselip fakta menarik: Dewi Kam, perempuan yang menempati posisi teratas sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes, tercatat sebagai pemegang saham utama. Kekayaan perempuan Rp 2.900 triliun ini memperkuat argumen bahwa pengaruh strategis dalam sektor energi nasional kini berada di tangan figur yang tak disangka-sangka.




