Ibu Rumah Tangga Ubah Limbah Kayu Jadi Kerajinan, Raup Jutaan Rupiah

Ibu rumah tangga asal Pandeglang, Rizki Pebriani, membuktikan bahwa keterbatasan ruang gerak selama pandemi justru memicu kreativitas; ia mengolah sisa kayu menjadi kerajinan tangan yang kini diekspor ke berbagai negara, sehingga pendapatan keluarganya tetap stabil dan bahkan berkembang.

Sebagai ibu rumah tangga yang ingin menambah penghasilan, Rizki memilih memproduksi jam tangan kayu dengan tali kain tenun khas suku Badui Banten; keunikan ini membuat Kay Wood Work langsung dicari dan menguntungkan.

Bacaan Lainnya

Rizki menjelaskan bahwa jam tangan dari kayu sisa buatan pengrajin Banten kini hadir lebih istimewa dengan tali anyaman kain Badui, menciptakan aksesori eksotis sekaligus meningkatkan pendapatan ibu rumah tangga dan warga sekitar. Inovasi ini membuktikan bahwa kolaborasi kearifan lokal dapat mengubah limbah kayu menjadi produk bernilai tinggi sambil memberdayakan komunitas setempat.

Di tengah pandemi, Rizki menemukan peluang baru dengan memproduksi kerajinan home decor berbentuk badak khas Banten yang berfungsi sebagai holder ponsel; produknya yang unik dan bermanfaat ini diminati berbagai kalangan, termasuk ibu rumah tangga, sehingga membantu kelangsungan bisnisnya, apalagi ia kerap diundang ke pameran untuk memperkenalkan karyanya secara lebih luas.

Sejak awal pandemi, Rizki—yang awalnya berfokus pada sovenir untuk instansi dan perusahaan di Banten—berkolaborasi dengan pelaku UMKM lain agar produknya tembus ke ibu rumah tangga dan segmen menengah yang mencari cinderamata bermakna tanpa harus keluar rumah.

Rizki membuka peluang bagi para pelaku UMKM—termasuk ibu rumah tangga yang sedang merintis usaha boneka—untuk memesan boks kayu eksotis berkualitas, sehingga setiap tahun bisnisnya mampu menghasilkan omzet ratusan juta rupiah sambil mendukung pertumbuhan ekonomi kreatif setempat.

Masa pandemi justru menjadi momen keemasan bagi Rizki, seorang ibu rumah tangga, untuk menyelami riset dan pengembangan kerajinan kayu sambil mengikuti beragam pelatihan daring yang diselenggarakan oleh pemerintah dan BUMN, sehingga keterampilannya terus berkembang di tengah keterbatasan gerak.

Rizki berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan usaha jam tangan kayu dan home décor-nya yang masuk dalam daftar unggulan BRIlianprenuer 2026; penghargaan ini membuka pintu lebih lebar bagi produknya hingga ke telinga ibu rumah tangga maupun komunitas desain interior di berbagai kota, sekaligus memperluas jaringan relasi dan pasar pemasaran secara signifikan.

Ibu rumah tangga lulus cumlaude di usia 34 tahun setelah 4 kali gagal

Sejak 2012, Rizki di Bandung mengubah limbah kayu menjadi jam tangan elegan—serba kayu, termasuk talinya—yang kini banyak dipesan oleh brand lain secara maklon; produknya pun mulai diminati ibu rumah tangga menengah karena desainnya ringan, ramah lingkungan, dan harga terjangkau.

Setelah ditinggal suaminya pada April 2015, ibu rumah tangga Rizki pulang ke Banten dan memulai kembali usaha jam tangan kayunya dari awal, mulai dari mesin hingga tenaga kerja.

Di Pandeglang, Banten, pembuatan jam tangan dari kayu masih terhambat karena sebagian besar pekerja—termasuk ibu rumah tangga yang baru terlibat—belum terbiasa dengan kerajinan detail; Rizki pun menekankan kesabaran dan ketelatenan agar setiap potongan kayu keluar dengan kualitas yang konsisten.

Untuk memperkenalkan hasil produksinya, Rizki menyasar instansi pemerintah di Banten lewat serangkaian roadshow; langkah ini membukanya kesempatan tampil di pameran daerah hingga nasional yang dihelat Bank Indonesia dan Bank BRI, sehingga daya beli masyarakat—termasuk ibu rumah tangga—kian meningkat.

Ketika pandemi COVID-19 menyerang, Rizki—seorang ibu rumah tangga yang beralih jadi pengusaha jam tangan kayu—terpaksa menghentikan produksi dan melepas seluruh stoknya dari Rp 700.000 menjadi Rp 400.000 per unit agar tetap menghidupi keluarga.

Ketika pandemi melanda, Rizki—seorang ibu rumah tangga—justru menyulap keterbatasan menjadi peluang dengan mengikuti serangkaian pelatihan dan kelas online tentang pengembangan usaha; ilmu baru yang ia peroleh langsung ia terapkan untuk menyempurnakan produknya sekaligus memperluas jangkauan pasar, membuktikan bahwa rumah tidak menjadi batasan untuk berkarya.

Ketika pandemi menekan, Rizki justru menemukan celah baru: ia meluncurkan lini home décor serta panel kayu serbaguna—mulai dari tempat tisu sampai holder handphone—yang langsung disukai ibu rumah tangga karena praktis dan estetik. Hasilnya, setelah mengikuti pelatihan digitalisasi, penjualannya melejit lewat website, e-commerce, dan media sosial, membuktikan bahwa kreativitas plus daring bisa jadi jalan aman di tengah ketidakpastian.

Permintaan produk terus naik, namun Rizki mengakui pasokan limbah kayu bekas—terutama sonokeling dan maple dari industri gitar—mulai menipis. Keterbatasan ini membuat ibu rumah tangga dan pelaku kreatif lainnya perlu berpikir ulang agar produksi tetap berjalan tanpa harus menunggu bahan langka.

Karena ketersediaan bahan baku utama mulai menipis, Rizki kini memvariasikan koleksi kerajinan rumahnya dengan menambahkan kayu jati dan mahoni berkualitas, sambil terus memanfaatkan limbah kayu dari industri gitar dan mebel; langkah ini membuat ragam produknya semakin luas sehingga ibu rumah tangga maupun komunitas pecinta dekorasi punya lebih banyak pilihan, dan Rizki optimistis target penjualan 2026 akan melampaui hasil tahun lalu.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *