Flexing marketing—pempameran kekayaan untuk menarik pelanggan—kini merambah dunia usaha, bukan hanya investasi; jika Anda mudah terpancing, luangkan waktu menimbang risikonya agar tidak menyesal.
Perencana keuangan Safir Senduk mengingatkan agar kita selalu waspada terhadap flexing marketing yang menampilkan kekayaan luar biasa dalam waktu singkat; mustahil sebuah bisnis kosmetik baru berusia 2–3 tahun sudah mampu membeli pesawat pribadi tanpa ada yang mencurigakan.
Flexing marketing nyatanya bukan hanya jargon, melainkan praktik nyata yang kerap muncul dalam bisnis multilevel marketing (MLM) di Indonesia, di mana bonus berupa perjalanan luar negeri, emas, atau barang mewah dipamerkan oleh para pemasar untuk menarik perhatian calon anggota baru.
Safir menegaskan bahwa kesalahan bukan terletak pada model bisnis MLM itu sendiri, melainkan pada perilaku individu yang menawarkannya; sebagian pelaku justru melakukan flexing marketing dengan memamerkan keuntungan, sementara yang lain tetap menjaga etika tanpa menonjolkan hasil secara berlebihan.
Alih-alih memamerkan nominal dalam strategi flexing marketing, cukup sampaikan bahwa bisnis ini memberikan bonus tambahan tanpa menjanjikan angka pasti, agar audiens menengah tidak terkecoh oleh ilusi cepat kaya.
Alih-alih memamerkan harta secara berlebihan di media sosial—praktik yang kerap dikaitkan dengan flexing marketing—lebih elegan bila kita menggunakan sudut pandang orang ketiga untuk menyampaikan apresiasi, sehingga pesan positif tetap sampai tanpa menimbulkan kesan sombong.
Flexing marketing memang kerap menarik perhatian, namun penting untuk tetap menyelipkan edukasi bahwa setiap bisnis memiliki risiko, tak terkecuali investasi—sehingga audiens menengah dapat menilai peluang dengan lebih bijak.




