Ekonomi Perempuan Bangkit: Susi Cetak Cuan Jutaan dari Telur Bebek

Susi Rahmawati membuktikan bahwa ekonomi perempuan bisa tumbuh dari kampung sendiri: di Desa Sujung, Kabupaten Serang, ia memimpin 51 perempuan mengelola peternakan bebek plus pengolahan telurnya—suatu model bisnis skala rumahan yang menjanjikan bagi calon mitra maupun investor.

Dengan mengelola 5.000 ekor bebek, Susi membuktikan bahwa ekonomi perempuan mampu menghadirkan produk telur berkualitas yang diproses oleh UKM Abinisa dan sudah tersedia di pasar tradisional, toko kelontong, toko oleh-oleh, hingga ritel modern—pilihan tepat untuk konsumen yang mengutamakan cita rasa sekaligus mendukung perempuan pengusaha lokal.

Bacaan Lainnya

Dengan omzet bulanan Rp 100 juta yang diperoleh dari telur olahan, Susi membuktikan bahwa ekonomi perempuan mampu tumbuh berkelanjutan karena setiap rupiahnya langsung mengalir untuk membeli bahan baku dari peternak dan memberdayakan puluhan pekerja perempuan—mulai dari janda beranak hingga istri pendamping suami sakit—sehingga produk yang Anda beli turut menciptakan lapangan kerja nyata bagi sesama perempuan.

Dengan membeli telur asin dari Susi, Anda turut mendukung ekonomi perempuan: setiap pagi ia menerima 1.500 butir telur bebek segar—maksimal dua hari usianya—karena hanya telur semuda itu yang menghasilkan telur asin berkualitas konsisten untuk meja Anda.

Produk telur asin milik Susi—sebuah contoh nyata ekonomi perempuan—siap mengantar minimal 100 butir ke pasar-pasar Serang maupun Jabodetabek setiap pekan, sehingga Anda bisa memesan langsung untuk kebutuhan toko atau konsumsi keluarga tanpa repot.

Untuk memastikan ekonomi perempuan tetap berputar, Susi sengaja memasok telur asin ke hotel dan supermarket lewat distributor yang membayar tunai harian, karena ia harus langsung menyerahkan hasil peternak setiap hari dan tak bisa menunggu tempo 30 hari dari properti modern.

Dengan dukungan jaringan Localoka BRI, warung Susi menyerap 500 butir telur asin tiap pekan sekaligus menumbuhkan ekonomi perempuan di Serang; para buyer pun bisa mengambil stok di toko oleh-olah sepanjang Jalan Tol Merak atau pusat souvenir kota tanpa khawatir kehabisan.

Dengan memperkuat ekonomi perempuan, Susi dan sesama peternak bebek di kampungnya kini menetapkan harga telur Rp 1.800 per butir—lebih stabil dari sebelumnya yang sempat anjlok ke Rp 1.400 kikuasai tengkulak; setelah diolah jadi telur asin, hasilnya dipasarkan sekitar Rp 2.800 per butir, menjanjikan keuntungan nyata bagi konsumen yang mencari produk berkualitas sekaligus mendukung perempuan produsen.

Dengan menjual 64 butir telur seharga Rp 1.800 ke Susi, seorang peternak perempuan membawa pulang bersih Rp 65.000 per hari—sumbangan nyata bagi ekonomi perempuan yang cukup untuk biaya sekolah anak dan kebutuhan dapur, sekaligus menunjukkan bagaimana usaha kecil di dapur produktif dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.

Program Susi memicu geliat ekonomi perempuan di Desa Sujung: puluhan ibu rumah tangga kini bertelurkan bebek, mantan satpam pabrik ikut ambil bagian, dan omzet harian mereka naik dua kali lipat—bukti nyata bahwa ternak bebek dapat mengangkat kesejahteraan keluarga dalam hitungan bulan.

Meski terdampak PPKM dan pengiriman telur sempat tersendat dua kali, ibu-ibu pengrajin di desa kami justru membuktikan bahwa ekonomi perempuan tak mudah goyah: omzet kembali stabil, order baru terus mengalir, dan—yang paling membahagiakan—Susi, seorang janda berpenghasilan pas-pasan, kini mampu menyekolahkan anaknya hingga kuliah hanya dari hasil telur asin yang ia buat.

Ekonomi perempuan bangkit: dari rugi puluhan juta ke untung berlipat

Dengan membeli beragam olahan telur asin Susi—mulai dari telur asap, tepung telur, hingga kerupuk telur asin—Anda tak hanya menikmati camilan lezat, melainkan turut memperkuat ekonomi perempuan, karena setiap produk adalah hasil produksi wanita lokal yang berkembang berkat bimbingan lembaga pendamping.

Didirikan pada 2018, usaha Susi bermula dari produksi telur asin rumahan yang kini berkembang menjadi kelompok ekonomi perempuan berskala lebih luas, berkat serangkaian pelatihan dari pemerintah, swasta, dan BUMN yang membuka jangkauan pasarnya secara signifikan.

Ketika PPKM menutup jalan tol Jakarta, Susi—salah satu pelaku ekonomi perempuan yang biasa mengirim telur asin dan produk olahannya—terpaksa menyalurkan seluruh stok ke warga sekitar karena pasar tradisional dan restoran tidak bisa menerima kiriman, sehingga ia mengalami kerugian besar namun tetap memilih berbagi daripada membuang hasil produksi.

Para peternak bebek petelur Susi mencatat potensi kerugian hingga Rp 90 juta akibat terganggunya rantai distribusi selama PPKM, sehingga telur menumpuk dan memicu kekhawatiran akan pembusukan; demi mempertahankan ekonomi perempuan di desa tersebut, mereka kini membuka pemesanan langsung guna menyerap hasil produksi harian yang terus bertambah.

Pelatihan Rumah BUMN Bank BRI mengajari Susi memasarkan makanan ringan lewat toko online, marketplace, serta Instagram dan Facebook, sehingga ekonomi perempuan desa di sekitarnya kembali bergerak karena pesanan datang lewat paket.

Produk unggulan Susi selain telur asin adalah tepung telur yang dipasok Rp 245.000/kg—bahan serbaguna untuk bolu, cookies, dan roti yang harumnya melebihi telur segar; dengan setiap pembelian, Anda turut memperkuat ekonomi perempuan pengusaha lokal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *