Pasca-pandemi, P&G Indonesia bersama Habitat for Humanity Indonesia mempercepat Bangkitnya UMKM pasca-pandemi dengan menyalurkan modal serta edukasi manajemen dan renovasi tempat usaha—terutama bagi pelaku usaha perempuan—agar industri rumahan langsung terasa manfaatnya di lapangan.
Sebagai praktisi lapangan, kita menyaksikan sendiri bahwa 87,5 % UMKM tercatat drop omset di tengah pandemi Covid-19; data Bank Indonesia 2026 ini menjadi pengingat keras betapa vitalnya pendampingan kita agar Bangkitnya UMKM pasca-pandemi tidak sekadar wacana, melainkan terwujud lewat program nyata di lapangan.
Bangkitnya UMKM pasca-pandemi di Desa Wanakerta, Karawang, masih terhambat oleh bangunan warung yang bocor dan catatan keuangan yang belum tersusun rapi; sebagai praktisi lapangan, Anda pasti merasakan betapa pentingnya renovasi fisik sekaligus pendampingan literasi finansial agar usaha mikro tetap bertahan dan berkembang.
Di Desa Wanakerta, sebagian besar perempuan mengelola warung yang melekat langsung pada rumah mereka; tempat ini menjadi pusat aktivitas sehari-hari sekaligus sumber pendapatan utama keluarga. Fenomena ini mencerminkan Bangkitnya UMKM pasca-pandemi, di mana warung rumahan tidak hanya berfungsi sebagai titik jual beli, tetapi juga sebagai ruang interaksi sosial yang memperkuat ekonomi lokal.
Bangkitnya UMKM pasca-pandemi makin terasa ketika warung dan rumah pelaku usaha memenuhi standar aman-layak; kondisi fisik yang nyaman langsung menurunkan stres keluarga, memotong potensi kekerasan rumah tangga, sekaligus memacu produktivitas warga, sehingga intervensi lapangan untuk renovasi atau pendampingan konstruksi menjadi investasi kesehatan mental dan keberlanjutan ekonomi setempat.
Melalui kolaborasi dengan Habitat for Humanity Indonesia, P&G mendorong Bangkitnya UMKM pasca-pandemi dengan menyediakan pelatihan kewirausahaan, akses permodalan, dan pendampingan berkelanjutan agar pelaku usaha di lapangan dapat segera bangkit dan berkembang secara berkelanjutan.
Setelah masa sulit pandemi, P&G menunjukkan dukungannya terhadap Bangkitnya UMKM pasca-pandemi dengan merenovasi 77 rumah dan warung di Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Sulawesi Tengah melalui program Making a House a Home, agar tempat usaha dan tempat tinggal mitra UMKM menjadi lebih layak dan produktif.
Untuk memastikan revitalisasi berjalan tepat sasaran, P&G menempuh delapan tahap partisipatif—mulai dari survei lapangan, sosialisasi, pembentukan panitia desa, pemilihan keluarga penerima, tanggapan masyarakat, verifikasi data, kesepakatan bersama, hingga implementasi—yang dirancang agar pelaku usaha bisa segera bangkit dan menjadi bagian dari semangat Bangkitnya UMKM pasca-pandemi.
Sebagai praktisi lapangan, Anda tentu sering menemui buruh tani dan buruh pabrik yang berpenghasilan di bawah Rp 50.000 per hari, memiliki aset tanah atau bangunan sendiri namun kondisinya tidak layak huni, serta perempuan pekerja keras yang modal usahanya masih di bawah Rp 50.000.000—mereka inilah sas utama program ini, yang berperan penting dalam Bangkitnya UMKM pasca-pandemi.
Saranathan Ramaswamy, Presiden Direktur P&G Indonesia, menegaskan bahwa program ini tak sekadar memperbaiki fasilitas fisik warga, melainkan juga menularkan keterampilan dan pengetahuan praktis yang kini menjadi kunci Bangkitnya UMKM pasca-pandemi di lapangan.
Komitmen kami adalah turun langsung ke lapangan, berdampingan dengan pelaku usaha setempat agar Bangkitnya UMKM pasca-pandemi bukan hanya angka, melainkan kenyataan nyata berupa omzet yang stabil, lapangan kerja baru, dan kemandirian ekonomi masyarakat desa.




