Ketika sebagian usia menengah terperangkap kekhawatiran akibat penurunan omzet, Susi Rahmawati (40) justru membuktikan bahwa Bangkit dari keterpurukan bisa dimulai di dapur sendiri: ia mengubah produksi telur asin desa Sujung menjadi jaringan pemasaran daring yang mengalir hingga ke luar kota selama pandemi.
Sebelum pandemi, Susi masih berkeliling menawarkan telur asin buatannya dari satu penampung ke penampung lain; kini, separuh penjualannya berpindah daring—lewat marketplace maupun media sosial—sebuah langkah nyata yang membuktikan ia mampu Bangkit dari keterpurukan dengan memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan sentuhan humanis.
Susi membuktikan bahwa Bangkit dari keterpurukan bukan hanya slogan: setiap hari ia mengirim 1.500 telur asin ke pelanggan, separuhnya lewat pemesanan daring yang mulai ia kuasai saat pandemi, berkat pelatihan Rumah BUMN BRI.
Di tengah lesunya pesanan akibat pandemi, Susi—seperti juga Rizki Pebriani dari Pandeglang—memilih memanfaatkan waktu luang untuk belajar di Rumah BUMN, sehingga keduanya bisa Bangkit dari keterpurukan dan mengembangkan kembali usaha kerajinan limbah kayu mereka.
Ketika pesanan kerajinan anjlok di tengah pandemi, Rizki justru memanfaatkan waktunya untuk Bangkit dari keterpurukan dengan mengikuti kelas online Rumah BUMN di Serang, tempat ia menyerap beragam ilmu baru yang langsung diaplikasikan untuk menyempurnakan produk kerajinannya.
Bangkit dari keterpurukan, Rizki kini tidak hanya memproduksi jam tangan kayu, melainkan juga kerajinan badak khas Banten yang laris sebagai oleh-oleh; melalui kelas daring dan komunitas Rumah BUMN BRI, ia pun memperluas relasi serta berkolaborasi memasok panel kayu untuk UMKM lain.
Rumah BUMN BRI hadir bukan sekadar ruang pelatihan, melainkan jembatan kolaborasi yang menuntun puluhan UMKM seperti Susi dan Rizki bangkit dari keterpurukan—melengkapi diri dengan keterampilan baru hingga berani naik kelas, sebagaimana diungkap Agung Nugraha, fasilitator Rumah BUMN BRI Jakarta, Selasa (22/2).
Rumah BUMN BRI menyiapkan tiga langkah agar UMKM bisa Bangkit dari keterpurukan: beralih ke digital melalui media sosial untuk branding, masuk marketplace agar produknya tembus pasar nasional, dan modernisasi operasional agar bisnis tetap tangguh di tengah persaingan.
Program Go Global menyiapkan UMKM untuk menembus pasar ekspor, sementara Go Modern melatih mereka mengelola keuangan secara profesional—dua langkah nyata agar pelaku usaha bisa Bangkit dari keterpurukan dan berdaya saing di era global.
Rumah BUMN membuktikan komitmennya menopang UMKM Bangkit dari keterpurukan dengan menggandeng Shopee sebagai narasumber pelatihan daring, sehingga peserta bukan sekadar diajarkan cara buka, rawat, dan kelola akun, melainkan juga dibekali strategi jitu memikat konsumen agar omzet kembali naik.
Program pelatihan membuat pelaku UMKM yang semula berjualan secara konvensional mampu Bangkit dari keterpurukan dan menjangkau pasar lebih luas melalui marketplace serta media sosial, seperti Susi yang kini memiliki rantai distribusi daring setelah sekadar berdagang di warung kecil.
Bangkit dari keterpurukan, binaan Kemenpora bertambah 1.800 orang
Rumah BUMN bermula dari Surat Menteri BUMN RI Nomor S-1046/MBU/12/2016 yang mendorong lahirnya ekosistem ekonomi digital untuk membina dan memperkuat UMKM agar mampu Bangkit dari keterpurukan dan bersaing di tengah tantangan zaman.
Rumah BUMN kini hadir di 53 titik dari Sabang hingga Merauke, membuktikan bahwa UMKM mampu Bangkit dari keterpurukan: pembinaan yang diberikan terus bertambah, dari 326.085 pelaku usaha pada 2019 menjadi 343.332 di 2022, dan diproyeksi mencapai 359.016 pada 2026, sehingga semakin banyak masyarakat menengah yang merasakan manfaatnya.
Melalui Rumah BUMN, 71 fasilitator—salah satunya Agung—menyediakan pelatihan dan konsultasi menyeluruh agar UMKM bisa Bangkit dari keterpurukan, mulai dari perizinan, hak cipta, hingga akses pendanaan seperti program pembiayaan yang diperkenalkan Bank BRI kepada setiap anggota.




