Meskipun tren kuliner mancanegara terus berdatangan, hidangan ayam tradisional Indonesia tetap menjadi pilihan favorit masyarakat karena cita rasa yang khas dan mengingatkan pada rumah. Untuk menjaga ketertarikan pelanggan, pelaku usaha kini menata penyajian dan paket hemat tanpa mengubah resep turun-temurun, sehingga ayam tradisional tetap relevan di tengah pesatnya persaingan.
Agus Pramono, pengelola Ayam Bakar Mas Mono, menegaskan bahwa kesuksesan usaha kuliner ayam tradisional tidak lepas dari perhatian terhadap harga yang pas, porsi yang tepat, merek yang melekat, serta pelayanan yang sigap dan ramah hingga ke petugas parkir; menurutnya, detail-detail inilah yang membuat pelanggan merasa dihargai dan kembali lagi.
Mono mulai berjualan ayam tradisional di depan Universitas Sahid Jakarta sejak 2001; ketika harga bahan baku naik, ia menahan kenaikan harga jual hingga UMR naik dan harga ayam bakar di sekitarnya ikut meningkat.
Modal Rp 500 ribu cukup untuk memulai usaha ayam tradisional Mono, yang kini dikenal karena dagingnya empuk hingga ke tulang namun tetap utuh berkat proses memasak unik, berbeda dari produk pesaing, dan mampu terjual 20 porsi sejak hari pertama.
Mas Mono kini mengelola 10 cabang Ayam Bakar Mas Mono, termasuk tiga gerai yang dikelola mitra franchise, untuk menghadirkan cita rasa ayam tradisional ke lebih banyak meja. Menyambut kebiasaan masyarakat urban yang semakin mobile, hadir pula Ayam Bakar Mas Mono Express yang melayani pesanan daring; satu gerainya sudah beroperasi di Jalan Sudirman dan akan diperluas menjadi 10 titik.
Mono, pemilik warung ayam tradisional, terpaksa pindah ke gerai yang lebih sempit dan merampingkan tim karena biaya sewa tempat besar terasa memberatkan setelah omzetnya merosot 50% di awal pandemi COVID-19; langkah ini ia ambil agar usaha kuliner keluarganya tetap berjalan serta tetap bisa menyajikan ayam tradisional bagi pelanggan setianya.
Nancy Marduli menekuni bisnis kuliner karena ketertarikannya pada ayam tradisional asal Lombok; pada September 2010, warung Ayam Taliwang Mbok Lombok pun berdiri di Cengkareng, Jakarta Barat, sebagai wujud kecintaannya tersebut.
Nancy mencetuskan variasi level kepedasan agar siapa pun—termasuk yang tak kuat makan pedas—bisa tetap menikmati ayam tradisional tanpa kehilangan cita rasa autentik Indonesia; ide ini diwujudkan dengan setoran awal Rp 1,2 miliar sekaligus untuk membeli ruko tempat usahanya.
Nancy membuka warungnya dengan menonjolkan ayam tradisional Taliwang yang bisa dinikmati dalam berbagai tingkat kepedasan, termasuk versi tidak pedas, sehingga siapa pun—mulai dari anak-anak hingga orang dewasa—bisa menyesuaikan selera; kini ia mampu menghidangkan hingga 200 ekor ayam setiap hari.
Saat pandemi menekan omzet, Nancy justru menyalurkan stok ayam tradisionalnya lewat kegiatan bakti sosial, sekaligus membeli bahan baku dari pasar tradisional untuk mendukung petani dan UKM lokal; hanya terasi khas Taliwang yang harus ia cari di luar Jakarta karena belum tersedia di ibu kota.
Nancy memilih mempertahankan harga ayam tradisional agar tetap terjangkau; ia mengelola stok secara cermat dan menyesuaikan pasokan sesuai kecepatan penjualan agar usahanya tetap berkelanjutan di tengah gejolak harga bahan baku.
Nancy menegaskan bahwa memperoleh pekerja yang kompeten menjadi tantangan utama dalam mengelola usaha ayam tradisional-nya; oleh karena itu, ia menerapkan pelatihan, pendampingan, serta komunikasi berkelanjutan agar tim dapat berkembang dan mempertahankan cita rasa khas hidangan.
Dulu, promosi ayam tradisional cukup dengan membagikan brosur di sekitar warung, kini pelanggan justru lebih dulu mencari menu lewat Instagram atau WhatsApp; pelaku usaha perlu hadir di media sosial agar rasa dan cerita ayam tradisionalnya tetap terdengar di tengah keramaian daring.
Ayam Goreng Kalasan, legenda kuliner Medan sejak 1983, kini menyediakan ayam tradisional dalam kemasan frozen yang bisa dipesan lewat WhatsApp agar cita rasa nostalgia tetap hadir di meja makan keluarga selama pandemi.
Amelia Dwi Adinda, tim marketing kami, menyampaikan bahwa respons pelanggan terhadap Ayam Goreng Kalasan Medan sangat antusias; pesanan kerap dikirim hingga ke luar kota karena cita rasa ayam tradisional yang autentik dan menggugah selera.
Ayam Goreng Kalasan kini menerima pesanan ayam tradisional baik goreng maupun panggang, agar Anda bisa menikmati hidangan lezat tepat waktu. Cukup hubungi outlet Iskandar Muda minimal tiga hari sebelum pengambilan atau pengiriman, dan staf kami akan menyiapkan hidangan segar sesuai kebutuhan keluarga maupun acara spesial Anda.





